Minggu, 29 Maret 2009

album

Jumat, 27 Maret 2009

hunting


Berburu Foto (Hunting)

Berangkat pergi menuju suatu lokasi dengan tujuan utama melakukan pemotretan lazim disebut dengan hunting atau berburu foto. Umumnya kegiatan hunting dilakukan di luar ruangan, namun tidak tertutup kemungkinan di dalam ruangan (terutama ruangan yang memiliki karakteristik spesifik). Bagi penggemar fotografi yang tergabung dalam klub foto hunting merupakan kegiatan yang tidak asing. Bahkan secara periodik mereka biasa menjadwalkan kegiatan hunting secara bersama-sama. Manfaatnya? Banyak

Kalau Anda bukan anggota salah satu klub foto, Anda masih dapat mengajak beberapa rekan sehobi. Namun jika ternyata tidak ada orang lain yang dapat diajak serta, bukan merupakan kesalahan hunting dilakukan seorang diri.Yang terpenting dalam hunting sebenarnya; jika seseorang memutuskan berangkat untuk melakukan hunting maka ia pergi dengan tujuan yang jelas. Secara mental hal ini akan memberikan motivasi lebih, semangat lebih dan akhirnya konsentrasi yang lebih

A. Persiapan

Pilihlah lokasi yang hendak dituju, jika masih asing, tanyalah rekan yang pernah pergi ke tempat itu untuk mengetahui jenis objek yang terdapat di sana. Jika memungkinkan, Anda dapat melakukan survei terlebih dulu di lokasi tersebut. Dengan demikian, Anda telah mempunyai bayangan, objek-objek yang akan didapatkan atau waktu pemotretan yang tepat sehingga dapat menentukan peralatan foto yang hendak dibawa.

B, Waktu

Pilihlah waktu (jam, hari, dan bulan) yang tepat untuk berburu foto di suatu lokasi. Secara umum, waktu hari terbaik adalah di pagi/sore hart, ketika matahari condong sehingga akan diperoleh efek penyinaran tidak terlalu kontras, yang akan menimbulkan daerah bayangan lebih lunak.

Jika terpaksa memotret di siang hari maka harus dicari akal untuk mengurangi kontras gambar, misalnya dengan menggunakan reflektor, cahaya pengisi dengan lampu kilat, menunggu matahari tertutup awan, atau memotret di tempat teduh. Jika hujan, Anda tetap dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan foto yang baik.

Bagi seorang fotografer, sebenarnya tidak ada istilah cuaca buruk, tinggal kreativitas fotografer dalam memanfaatkan segala cuaca untuk menghasilkan foto yang baik.

C. Cara

Terdapat dua cara pemotretan. Pertama, mengambil gambar, dalam arti memotret apa adanya yang terdapat di depan kamera, tanpa menga­tur objek yang dipotret atau dengan mengambil secara candid. Kedua, membuat gambar, mengatur objek yang dipotret seperti yang diingin­kan, menambah efek-efek penyinaran dan lain-lain dengan sengaja membawa model/objek dari rumah. dalam hal ini, Anda bertindak seperti seorang sutradara. Kedua cara pemotretan itu masing-masing memiliki kiat dan kepuasan tersendiri. Bagi pemula, sebaiknya dimulai dengan cara pertama, memotret apa adanya karena jika tidak terampil mengatur objek akan menghasilkan gambar yang tidak wajar/kaku.

D. Tempat

Jika memotret orang atau tempat tertentu, sebaiknya minta izin terlebih dahulu dan menginformasikan tujuan Anda memotret. Jika orang tersebut menolak dipotret atau tempat itu merupakan tempat terlarang untuk dipotret, Anda tidak perlu memaksakan untuk memot­retnya. Hormatilah hak azasi seseorang dan adat istiadat setempat. Dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan, jangan lupa menga­mati objek-objek yang dijumpai. Jika mendapatkan objek yang menarik, segera berhenti dan potretlah objek itu. Jangan menunda atau berpikir untuk mengambilnya ketika perjalanan pulang dari tempat tujuan atau hari lain kembali lagi. Jika Anda berpikir demikian, kemungkinan besar Anda akan kehilangan gambar menarik karena setelah kembali lagi ke tempat itu suasananya telah berubah atau objeknya tidak ada lagi. Perlu diketahui, hampir setiap hari suasana berubah, tidak ada yang sama.

Di saat menjumpai adegan menarik, janganlah menghemat film. Potretlah adegan tersebut beberapa bingkai film, dengan berbagai sudut pengambilan dan kombinasi pencahayaan. Bagaimanapun film merupakan material termurah dibandingkan biaya dan waktu yang diperlukan untuk mengulangi pemotretan karena Anda gagal akibat terlalu optimis hanya mengambil satu atau dua bingkai film saja.

Untuk, ini, tidak perlu membawa semua peralatan foto yang Anda miliki. Hal itu hanya akan membuat beban Anda bertambah berat. Lebih baik kehilangan beberapa gambar karena tidak membawa per alatan yang diperlukan daripada kehilangan lebih banyak gambar karena Anda terlalu letih membawa semua peralatan foto.

Sehari sebelum acara berburu foto, persiapkan peralatan-peralatan yang hendak dibawa dan periksa dengan teliti apakah yang diperlukan telah slap semua. Bawalah film dua kali lebih banyak dari yang diper kirakan karena biasanya Anda akan asyik memberondong adegan-adegan menarik sehingga persediaan film cepat habis. Bagi pengguna kamera elektronik, jangan lupa membawa baterai cadangan.

E. Peralatan

Kamera ideal untuk berburu foto adalah kamera RLT yang memiliki fasilitas lepas-tukar lensa. Meskipun demikian kamera saku pun dapat menghasilkan foto yang baik jika digunakan dengan rasa penuh percaya diri. Kamera yang mahal bukan jaminan dapat meng­hasilkan foto yang baik, yang terutama adalah orang di belakang kamera. Tentunya, Anda harus mengetahui kemampuan dan keterbatasan peralatan foto yang dimiliki. Jika menggunakan kamera saku, yang menggunakan lensa dengan panjang titik bakar tetap (umumnya lensa sudut lebar), pilihlah objek yang dekat atau dapat didekati agar diperoleh perbesaran gambar objek utama cukup besar. Jika objek jauh dan Anda tidak dapat mendekatinya sehingga objek utama tidak dapat memenuhi bingkai gambar maka Anda tidak perlu memotretnya. Begitu pun jika Anda hanya memiliki kamera RLT dengan lensa normal.

F. Pemotretan Candid

Jika Anda memotret suatu kejadian atau adegan yang menyangkut manusia apa adanya tanpa mengaturnya sama sekali, yang Anda lakukan itu dikenal sebagai pemotretan candid Dengan memotret apa adanya akan dihasilkan foto yang terlihat wajar. Teknik pemotretan ini biasanya banyak dilakukan wartawan foto.

Kehidupan sehari-hari merupakan lahan pemotretan yang tidak akan pernah habis untuk pemotretan candid. Selain beraneka ragam, adegan-adegan yang dapat dipotret tidak dapat diulang kembali.

Tidak pernah ada dua foto candid yang persis sama. Di Indonesia sendiri dengan begitu beragamnya kehidupan masyarakat, tidak terbatas jumlah foto candid yang bisa dibuat. Misalnya, dari kegiatan transaksi di pasar tradisional Kalimantan yang menggunakan perahu (pasar terapung) misalnya, bisa dibuat ratusan foto candidyang masing-masing punya ciri tersendiri. Foto suasana pasar memang gudang adegan-adegan menarik yang tidak habis-habisnya.

Barangkali sudah merupakan kodrat alam bahwa tidak ada hal yang lebih menarik perhatian manusia daripada dirinya sendiri. Manusia selalu ingin tahu tentang sesamanya di tempat lain (human Interest), baik tingkah laku, kehidupan sehari-hari, budaya, dan sebagainya.

Untuk memperoleh hasil pemotretan yang baik, pemotret tentu harus memakai peralatan yang memadai. Peralatan memadai itu tidak berarti harus lengkap, yang penting fungsional, sesuai dengan kebu tuhan. Namun, peralatan yang lengkap tentu bisa lebih menggairahkan pemakai dalam memotret.

Untuk memudahkan pemotretan candid, disarankan mengguna­kan kamera yang berfasilitas automatis (minimal bersarana aperture priority) dan (kalau bisa) memakai lensa autofokus. Fasilitas winder/ motor drive yang tersedia juga akan sangat menguntungkan.

Fotografer hanya memerlukan kesigapan menangkap manusia dan aktivitasnya pada saat la lengah. Bahkan, fotografer bisa memotret tanpa disadari subjek foto.

Kamera manual penuh juga bias dipakai. Dengan catatan, Anda sudah sangat paham dalam menggunakannya sehingga sudah seperti menggunakan anggota badan sendiri.

Namun harus diingat, hendaknya kelengkapan fasilitas yang ada pada kamera tidak dijadikan jaminan akan diperoleh foto-foto yang bermutu. Semua fasilitas itu tidak banyak artinya jika digunakan dengan cara yang tidak benar/tepat. Bahkan, mungkin akan menghasilkan banyak kegagalan jika digunakan secara sembarang. Dengan kata lain, kecanggihan fasilitas pada kamera hanya menyederhanakan sebagian prosedur pemotretan. Sisanya, kemampuan sang pemotret yang berbicara.

Untuk mempertahankan kewajaran dari gambar-gambar yang diambil secara candid, akan lebih baik jika pemotret menggunakan lensa tele atau tele zoom. Dengan lensa tele, kehadiran fotografer tidak dirasakan oleh objek foto sehingga kewajaran foto yang diperoleh lebih terjamin.

Kamera yang dibawa jelas harus dalam keadaan siap tembak Jika tidak memakai motor-drive, harus sudah terkokang, tergantung pada kebiasaan fotografer. Biasanya, untuk memudahkan pemotretan, diafragma sudah diatur pada bukaan paling besar (fully open) dan kecepatan kamera pada posisi automatis (auto exposure atau apeture priority). Ini dimaksudkan agar fotografer cukup hanya mengatur fokus (jika lensa tipe manual) dan tinggal menekan tombol rana pada saat mendapatkan adegan yang menarik.

Untuk menunjang semua itu maka film yang digunakan sebaiknya berkepekaan/ISO tinggi minimal 400. Dengan memakai film berkepekaan lebih rendah, itu pun masih memungkinkan, tapi keleluasaan fotografer akan dibatasi lemahnya pencahayaan yang bisa terjadi. Pemotretan candid tidak hanya mengembangkan kemampuan teknis fotografi. Akan tetapi, ini juga melatih fotografer membuat komposisi yang baik dengan cepat, melatih daya tanggap, dan spontanitas. Oleh karena itu, seorang fotografer perlu sigap, cekatan, dan berpikir cepat untuk menangkap momen atau kesempatan yang terpajang di depan mata.

Karena begitu banyak karakter manusia yang dapat diabadikan, fotografer harus mempunyai persiapan yang baik, lebih dari sekedar penguasaan teknis fotografi. Pada suatu situasi, ia harus memilih untuk memotret secara diam-diam atau berbicara terus terang pada subjek (kalau orang) yang akan dipotret. Ada orang yang senang hati dipotret, tetapi ada pula yang menolak.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan ialah berpikir dua kali untuk mempublikasikan foto-foto yang diperoleh, khususnya foto orang (terkenal) yang sedang bermimik jelek, marah, dan sejenisnya. Mungkin perasaan orang itu akan tersinggung jika melihatnya. Jadi, fotografer dituntut pula untuk lebih bersifat kritis dan bertanggung jawab atas hasil fotonya yang akan dipublikasikan. Mintalah izin terlebih dulu jika ingin mempublikasikan foto hasil karya Anda yang menam­pilkan seseorang (khususnya orang terkenal) di muka umum.

copyright @2009 - handoko siswo utomo - All Rights Reserved